Sumber :
Jurnal Matematika Vol. 11, No.3, Desember 2008: 115-120, ISSN:
1410:8518
Yang Karang
Oleh :
Sulanjari dan Sutimin
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Diponegoro
Jln. Prof. H. Soedarto, S.H., Tembalang, Semarang
Dan Dapat Diakses di Website Berikut Ini :
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=model%20dinamik%20pertumbuhan%20biomassa%20udang%20windu%20%20dengan%20faktor%20mortalitas%20bergantung%20waktu%20%20filetype%3Adoc&source=web&cd=1&ved=0CB8QFjAA&url=http%3A%2F%2Feprints.undip.ac.id%2F1954%2F1%2F3._Sulanjari_%2526_Sutimin.doc&ei=JR9iT-_BE8mqrAfU0eDhBw&usg=AFQjCNHaM-7IgCM2DW9AskNWhrhQySHE3g&cad=rja
Pemodelan
n Pemodelan
merupakan suatu upaya untuk melakukan analisis sistem pendukung keputusan (SPK)
dengan cara meniru bentuk nyata-nya dari pada melakukannya pada sistem nyata.
Definisi
Model
n Model
dapat diartikan sebagai penggambaran, penyederhanaan, miniatur, atau peniruan.
n Pemodelan
lingkungan adalah penggambaran proses lingkungan beserta hubungan antar
komponen/variabel pembentuknya menggunakan representasi logika dan matematika.
n Pemodelan
merupakan salah satu cabang dari analisis ilmiah. Kegiatan pemodelan meliputi:
pembuatan konsep, pengorganisasian, komunikasi, pemahaman, analisis, ujicoba
pengukuran lapangan, ramalan, prediksi, peringatan dini (early warning),
dan optimasi pengambilan keputusan.
n Pemodelan
dapat dipergunakan untuk membantu menjelaskan fenomena fisik, kimia, dan
biologi yang mungkin terjadi dalam proses tersebut.
n Model
merupakan perumusan matematika dari proses-proses fisika/kimia/biologi suatu
fenomena alam, sehingga jika dimasukkan data-data penunjang, kemudian dihitung
dengan metode perhitungan tertentu, akan dapat dihasilkan gambaran proses
secara keseluruhan.
n Kelebihan
model adalah model dapat digunakan sebagai sarana simulasi, sehingga dengan
model kita dapat memperkirakan, memprediksi dan mempelajari berbagai
kemungkinan yang dapat terjadi jika berbagai skenario diaplikasikan dalam model
tersebut.
Alasan
Penggunaan Model
n Manipulasi
model (seperti mengubah variabel) akan lebih mudah dilakukan daripada
melakukannya pada sistem nyata.
n Model
dapat menghemat waktu.
n Biaya
untuk menganalisis model jauh lebih murah jika dibandingkan dengan
mengaplikasikannya pada sistem nyata.
n Resiko
kesalahan pada bentuk model dengan melakukan trial & error
(coba-coba) jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan melakukannya pada sistem
nyata.
n Lingkungan
bisnis yang banyak mengandung ketidakpastian.
n Model
matematika dapat menganalisis kemungkinan solusi dalam jumlah yang lebih banyak
bahkan tidak terbatas.
n Model
meningkatkan pembelajaran & pelatihan.
n Model-model dan
metode-metode untuk mendapatkan solusi telah tersedia di web.
n Ada beberapa Java
applet (atau pemrograman web lainnya) yang tersedia untuk menyelesaikan
model-model tersebut.
1.
Pendahuluan
Indonesia
merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam hayati baik yang berasal dari
darat maupun perairan. Daerah perairan Indonesia yang cukup luas, merupakan
wilayah pantai yang cukup subur dan dapat dimanfaatkan bagi kepentingan
perikanan. Upaya meningkatkan produksi perikanan dapat ditempuh melalui
budidaya, baik di darat maupun di laut. Budidaya udang dan rumput laut
merupakan salah satu jenis budidaya dibidang perikanan yang mempunyai peluang
untuk dikembangkan di wilayah perairan Indonesia.
Udang
merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas
kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang
disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar
terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air
tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air
tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli
sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari
keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang penaeid oleh para ahli. Udang
merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi.
Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen
dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak
kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru
ekspor udang Indonesia terus bermunculan.
Dewasa
ini para petani tambak yang ingin mengembangkan usaha di bidang perikanan,
salah satunya adalah budidaya tambak udang windu. Udang windu adalah udang yang
ukuran badannya lebih besar dari pada udang biasa, dari jenis dan kualitas
unggul; dengan nama latin penaeus monodon.
Udang windu termasuk pada kelas nomina.
Nama lain dari udang windu adalah udang pacet (bahasa indonesia / jawa) atau
tiger prawn (bahasa inggris). Udang windu sudah sejak lama diminati oleh
masyarakat. Bagi petambak, udang windu merupakan primadona budidaya sistem
tambak yang relatif bandel, hal ini tidak lain karena sifatnya yang mempunyai
ketahanan tinggi terhadap lingkungannya. Udang windu relatif tahan terhadap
serangan penyakit dan memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi. Dengan
ketahanan yang tinggi tersebut pemeliharaan udang windu bisa mencapai ukuran
besar, sehingga harganya bisa lumayan tinggi. Dengan demikian para
petambak bisa meningkatkan pendapatannya yang secara
tidak langsung juga meningkatkan taraf hidupnya. Bagi masyarakat udang
merupakan sumber makanan yang berprotein tinggi, yang penting bagi kesehatan.
Tidak heran kalau sekarang udang banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena
udang windu mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan digemari banyak orang
(manfaat yang banyak).
Daerah
penyebaran benih udang windu antara lain: Sulawesi Selatan (Jeneponto,
Tamanroya, Nassara, Suppa), Jawa Tengah (Sluke, Lasem), dan Jawa Timur
(Banyuwangi, Situbondo, Tuban, Bangkalan, dan Sumenep), Aceh, Nusa Tenggara
Barat, Kalimantan Timur, dan lain-lain.
1.2 Manfaat Udang
a.
Udang merupakan bahan makanan yang
mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan
lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A
60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting
adalah zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
b.
Udang dapat diolah dengan beberapa
cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dll.
c.
Limbah pengolahan udang yang berupa
jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang
dan hidrolisat protein.
d.
Limbah yang berupa kepala dan kaki
udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang
budidaya.
e.
Limbah yang berupa kulit udang
mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah dapat dimanfaatkan dalam
industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dll.
f.
Chitosan yang terdapat dalam kepala
udang dapat dimanfaatkan dalam industri kain, karena tahan api dan dapat
menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.
1.3 Persyaratan Lokasi Tambak Udang
- Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C.
- Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan tidak pecah-pecah.
- Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).
- Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3 meter.
- Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0-35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan secchi disk)
- Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) netral.
Bertolak dari pemikiran tersebut, maka pembahasan dalam
penelitian ini dititik beratkan pada model dinamik pertumbuhan biomassa udang windu.
Biomassa merupakan total massa dari suatu populasi. Dengan model tersebut akan dapat ditentukan pola
pertumbuhan udang windu sehingga dapat membantu masyarakat dalam menentukan
produksi biomassa yang maksimal dan menentukan kapan waktu panen yang tepat.
2. Model Pertumbuhan Panjang
Model pertumbuhan panjang mengikuti model Von
Bertalanffy. Model Von Bertalanffy merupakan model yang menggambarkan
pertumbuhan ukuran tubuh individu. Model Von Bertalanffy merupakan model
sederhana akan tetapi model ini sering memberikan kecocokan
data empiris yang lebih baik ketika ketersediaan nutrisi
konstan.
Dalam Model Von Bertalanffy ini dinotasikan L sebagai panjang dan diasumsikan bahwa
bentuk tubuh tidak berubah selama pertumbuhan. Jika dinotasikan S sebagai permukaan tubuh yang
proporsional / sebanding dengan L2
dan V sebagai volume yang sebanding
dengan L3. Pertumbuhan
tubuh sebagai akibat dari mengkonsumsi
nutrisi yang sebanding dengan permukaan tubuh (S). Tubuh mengkonsumsi nutrisi untuk mempertahankan kelangsungan
hidup dan untuk pertumbuhan. Jumlah nutrisi yang digunakan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup itu lebih besar jika dibandingkan yang digunakan untuk
pertumbuhan. Besarnya nutrisi yang dikonsumsi untuk mempertahankan kelangsungan
hidup itu sebanding dengan volume (V).
Secara matematis model pertumbuhan tubuh tersebut dapat dirumuskan sebagai
berikut :
, (1)
dimana:
: nutrisi yang dikonsumsi
Cara membaca persamaan (1) :
Laju perubahan volume ukuran tubuh
udang windu tiap satuan waktu adalah bertambah dengan adanya nutrisi yang
dikonsumsi sebesar 1 satuan dan berkurang dengan adanya nutrisi yang diperlukan
untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Dan
ingat bahwa persamaan (1) adalah bisa dijabarkan sebagaimana berikut ini :
= = = f′(t)
Persamaan (1) merupakan persamaan differensial, dengan
mensubtitusikan nilai , , dan ke
persamaan (1) diperoleh :
Jika diberikan syarat awal , maka diperoleh solusi khusus dari persamaan (1)
yaitu:
. (2)
Dengan , kemudian diasumsikan
sebagai koefisien pertumbuhan (k)
maka jika disubtitusikan nilai-nilai tersebut ke persamaan (2) maka diperoleh
solusi:
,
(3)
dimana
L(t) : panjang pada waktu t,
: panjang pada t tak berhingga,
k :
koefisien pertumbuhan,
t0 : waktu pada saat L0.
3. Hubungan Panjang dengan MASSA
Massa dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang, sehingga
model pertumbuhan massa berkaitan dengan model pertumbuhan panjang. Hubungan
panjang dengan massa hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa massa ikan sebagai pangkat tiga dari panjangnya. Hubungan
antara panjang dan massa oleh [3] dinyatakan dalam bentuk:
, (4)
dimana:
W(t) : massa pada waktu t,
L(t) : panjang
pada waktu t,
: konstanta .
Model pertumbuhan massa pada saat t
adalah
.
(5)
Jika diberikan syarat awal W(t0) = 0,
maka diperoleh solusi khusus dari persamaan (5) yaitu:
, (6)
dengan dan .
Sehingga persamaan (6) menjadi :
(7)
4. Model Pertumbuhan Populasi
Model pertumbuhan populasi mengikuti model pertumbuhan
eksponensial yang sudah dikombinasikan dengan model mortalitas alami. Seperti
yang sudah diketahui bahwa model pertumbuhan eksponensial
adalah:
, (8)
dimana:
N(t) : jumlah populasi pada waktu t,
r : laju
pertumbuhan intrinsik.
Cara membaca persamaan (8) :
Laju pertumbuhan jumlah populasi
pada waktu t adalah dipengaruhi oleh bertambahnya laju pertumbuhan logistik
sebanyak jumlah populasi pada waktu t.
Di sini laju pertumbuhan hanya
dipengaruhi oleh kematian alaminya saja sehingga diperoleh bentuk :
,
dimana:
Z : laju
mortalitas total sesaat dan
M :
laju mortalitas alam.
Laju
mortalitas alami (M) dipengaruhi oleh
panjang (W), koefisien pertumbuhan (k),
dan temperatur air (T). Sehingga
nilai laju mortalitas alami disini
mengikuti model [3]. Formula laju mortalitas alami tersebut adalah
dimana adalah massa asimtotik (batas ambang massa ).
Baverton
dan Holt [4] menghubungkan
antara parameter pertumbuhan dan angka mortalitas. Di sini diasumsikan bahwa
angka mortalitas berkebalikan dengan ukurannya, sehingga model pertumbuhan
populasinya menjadi
. (9)
Dengan menentukan nilai M mengikuti formula Pauly [3]. Jika diberikan syarat awal N(0) = 0, maka diperoleh solusi
khusus dari persamaan (9) yaitu:
,
(10)
dimana:
N0 : jumlah
populasi awal,
A :
koefisien panjang dengan
mortalitas,
k : koefisien
pertumbuhan,
: batas ambang panjang.
5. Model Pertumbuhan Biomassa
Biomassa merupakan total massa dari suatu populasi. Total biomassa dipengaruhi massa rata-rata individu dan jumlah populasinya. Sehingga
pertumbuhan biomassa bergantung pada pertumbuhan massa dan pertumbuhan populasinya.
Dari pembahasan sebelumnya diketahui bahwa pertumbuhan massa mengikuti Model Von Bertalanffy dan pertumbuhan
populasinya mengikuti model eksponensial yang telah dikombinasi dengan
mortalitas sehingga dari model-model tersebut dapat diketahui model
biomassanya. Karena total biomassa adalah massa rata-rata dikalikan dengan jumlah populasinya maka
, (11)
dimana:
B(t) : total biomassa pada waktu t
W(t) : massa rata-rata individu waktu t
Dari persamaan (6) dan (10), diperoleh total biomassa:
(12)
Pada waktu yang tidak terbatas biomassa mendekati nol
maka kita harus dapat menentukan kapan waktu yang tepat biomassa tersebut
mencapai total biomassa yang maksimal sehingga proses memanennya memberikan
hasil yang optimal. Maka dari itu harus mengetahui laju pertumbuhan biomassa
yang maksimum. Model pertumbuhan biomassanya adalah:
.
(13)
Dimana :
B(t) : total biomassa pada waktu t
W(t) : massa rata-rata individu waktu t
N(t) :
jumlah populasi pada waktu t
Cara membaca persamaan (13) :
Laju pertumbuhan total biomassa tiap
satuan waktu adalah dipengaruhi oleh bertambahnya laju massa rata-rata individu
tiap satuan waktu dikalikan dengan jumlah populasi pada waktu t , dan dipengaruhi
pula oleh bertambahnya laju jumlah populasi tiap satuan waktu dikalikan dengan
massa rata-rata individu pada waktu t.
Untuk mengetahui bahwa biomassa mencapai maksimum, maka , sehingga diperoleh .
Selanjutnya karena dan , maka diperoleh
.
Seperti diketahui , dengan demikian
. (14)
Dengan menyelesaikan persamaan (14) maka diperoleh yaitu waktu biomassa mencapai maksimum sebagai berikut
.
Dari analisis menjelaskan bahwa waktu yang diperlukan
agar produkasi maksimal bergatung pada parameter-parameter .
6. Model pertumbuhan berdasarkan Eksperimen
Studi kasus berdasarkan penelitian pertumbuhan udang
windu dan rumput laut yang dilakukan di Lab. Pengembangan Wilayah Pantai UNDIP
(LPWP) di Jepara mulai bulan Juni sampai Oktober 2007. Udang windu dipelihara
dalam akuarium berukuran 50cm x 60cm x 40cm. Udang windu yang dipelihara ada 3
perlakuan, perlakuan yang pertama yaitu udang yang dipelihara adalah 15 ekor,
perlakuan yang kedua udang yang dipelihara 30 ekor dan perlakuan yang ketiga
udang yang dipelihara 45 ekor. Selama pemeliharaan dilakukan pengukuran
mengenai panjang dan berat udang windu. Pengukuran dilakukan setiap 2 mingguan.
Sehingga dari penelitian tersebut diperoleh data panjang dan berat udang windu.
Dari data panjang dan berat maka diperoleh
parameter-parameter dari model pertumbuhan biomassa udang windu sebagai
berikut.
Untuk udang windu 15 ekor.
Untuk
memperoleh nilai digunakan
metode Walford dengan least square sebagai berikut.
Pertama kita
harus mencari persamaan garis Walford dengan membuat regresi dari data dan . Dari perhitungan dengan Maple diperoleh persamaan
garis Walfordnya:
.
Ini
menunjukkan bahwa intersepnya adalah 1,514 dengan sudut 0,889. Untuk mencari digunakan rumus:
.
Kemudian
k = – ln sudut Walford
= –ln 0,889 =
0,117.
Untuk mencari maka dibuat log natural persamaan Von Bertalanffy yaitu
.
Ini merupakan
persamaan garis lurus dari memplotkan terhadap t dengan sudut –k dan intersepnya adalah . Dari perhitungan regresi dengan Maple diperoleh k = 0.117 dan intersepnya = 2.448.
Karena sehingga
diperoleh
.
Untuk nilai dan A dicari
dengan menggunakan least square seperti pada, nilai = 40,345 dan A = -0,277. Selanjutnya diperoleh
mortalitas alami:
atau sehingga
Nilai M dari formula ini merupakan mortalitas tahunan, sedangkan dalam
perhitungan data menggunakan data 2 mingguan maka mortalitas per 2 mingguannya
adalah :
.
Untuk udang windu 30 ekor.
Perhitungan
parameter udang windu 30 ekor analog dengan perhitungan parameter udang windu
15 ekor, yaitu:
A = -0.19
M = 0.12
Untuk udang
windu 45 ekor.
Perhitungan
parameter udang windu 45 ekor analog dengan perhitungan parameter udang 15
ekor, yaitu:
A
= -0.30
M = 0.13
Hasil simulasi dengan menggunakan data empiris disajikan
dalam dalam Gambar 4.
Gambar 4:
Grafik Biomassa Udang Windu
berdasarkan data empiris dan
model
Berdasarkan model pertumbuhan biomassa
untuk udang windu 15 ekor, bahwa
biomassa mencapai maksimum pada t =
10,08
10 dengan biomassa total 87,34 gram. Artinya
biomassa udang windu mencapai maksimum pada waktu 5 bulan dengan total
biomassanya adalah 87,34 gram. Untuk udang windu 30 ekor, bahwa biomassa
mencapai maksimum pada t = 13,5
dengan biomassa total 261,88 gram.
Artinya biomassa udang windu mencapai maksimum pada waktu 6,5 bulanan dengan
total biomassanya adalah 261,88 gram. Untuk udang windu 45 ekor, bahwa biomassa
mencapai maksimum pada t = 12,8
13 dengan biomassa total = 409,59 gram.
Artinya biomassa udang windu mencapai maksimum pada waktu 6,5 bulanan dengan
total biomassanya adalah 409,59 gram.
Menurut Soetomo, udang windu itu dapat
dipanen sekitar umur 4 – 6 bulan, dari perhitungan model diperoleh waktu panen
untuk udang windu 15 ekor adalah 5 bulan, kemudian untuk udang windu 30 dan 45
ekor adalah sekitar 6,5 bulanan. Jika kita bandingkan waktu panen udang windu
secara umum dan dengan perhitungan model maka waktu panennya mendekati dengan
waktu panen.. Sehingga asumsi-asumsi yang diberikan dalam pemodelan dapat
dibenarkan, oleh karena itu analisa pertumbuhan biomassa udang windu dapat dilakukan
melalui analisa dari model pertumbuhan biomassa yang dipengaruhi oleh massa dan jumlah populasinya.
7. Validasi Model
Untuk
mengetahui seberapa besar tingkat kesalahan model terhadap data yang sebenarnya
maka dilakukan validasi model dengan analisa sensitivitas dan analisa
kesalahan. Hal ini dilakukan untuk menyelidiki seberapa besar tingkat kevalidan
model terhadap data. Analisa kesalahan yang digunakan disini yaitu menggunakan
analisis kesalahan relatif .
8. Penutup
Berdasarkan pembahasan tentang model
dinamik pertumbuhan biomassa udang windu
dapat disimpulkan bahwa model pertumbuhan biomassa yang dipengaruhi model
pertumbuhan massa yang mengikuti model Von Bertalanffy dan model pertumbuhan
jumlah populasi yang mengikuti model eksponensial yang dikombinasikan dengan
mortalitas relevan untuk digunakan. Dengan menggunakan model pertumbuhan biomassa
yang dipengaruhi oleh massa dan jumlah populasinya tersebut akan dapat
diketahui kapan waktu pemanenan yang tepat untuk udang windu dengan hasil panen
yang optimal.
9. Daftar
Pustaka
Ali Ismen (2002), A Preliminary on Population Dynamics
Parameter of Whiting (Merlangius euxinus) in Turkish Sea Coastal Waters,
Turk. J.Zool, 26 : 157 – 166
Beverton, R.J.H. dan
Holt S.J. (1956), A Review of Method for
Estimating Mortality Rate in Fish Population, with Special Reference to Source
Bias in Catch Sampling, Rapp, P.V. Reun. Cons. Int. Explor. Mer 140, 67 –
83.
Pauly D. David N.
(1980), An Objective Methods for
Determining Fish Growth from Length Frequency Data, ICLARM Newsletter 3 : 13 – 15.
Soetomo H. A, Moch.
(1990), Teknik Budidaya Udang Windu. Sinar
Baru, Bandung.
Syahid M, Subhan Ali,
Armando Rochim (2006), Budidaya Udang
Organik secara Polikultur, Penebar Swadaya, Jakarta.
LAMPIRAN
DAFTAR
ISTILAH
1. Mortalitas
= Kematian. Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena
akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per
individu dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan
kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5
berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun.
2. Morbiditas
= Banyaknya individu yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu.
3.
Udang Windu = Udang
yang ukuran badannya lebih besar dari pada udang biasa, dari jenis dan kualitas
unggul; termasuk kelas penaeus monodon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar